Jumat, 27 Mei 2016

INTRA OPERATIF(kebidanan)



 INTRA OPERATIF
1.       Pemeliharaan Keselamatan
  1. Atur posisi pasien
          1). Kesejajaran fungsional
          2). Pemajanan area pembedahan
          3). Mempertahankan posisi sepanjang prosedur operasi
  1. Memasang alat grounding ke pasien
  2. Memberikan dukungan fisik
  3. Memastikan bahwa jumlah spongs, jarum dan instrumen tepat.
2.      Pematauan Fisiologis
  1. Memperhitungkan efek dari hilangnya atau masuknya cairan secara berlebihan pada pasien
  2. Membedakan data kardiopumonal yang normal dengan yang abnormal
  3. Melaporkan perubahan-perubahan pada nadi, pernafasan, suhu tubuh dan tekanan darah pasien.
3.      Dukungan Psikologis (sebelum induksi dan jika pasien sadar)
  1. Memberikan dukungan emosional pada pasien
  2. Berdiri dekat dan menyentuh pasien selama prosedur dan induksi
  3. Terus mengkaji status emosional pasien
  4. Mengkomunikasikan status emosional pasien ke anggota tim perawatan kesehatan lain yang sesuai.
4.      Penatalaksanaan Keperawatan
  1. Memberikan keselamatan untuk pasien
  2. Mempertahankan lingkungan aseptik dan terkontrol
  3. Secara efektif mengelola sumber daya manusia.

PRINSIP-PRINSIP OPERATIF
1.       Prinsip kesehatan dan baju operasi
  1. Kesehatan yang baik sangat penting untuk setiap orang dalam ruang operasi. Sehingga keadaan pilek, sakit tenggorok, infeksi kulit, merupakan sumber organisme patogenik yang harus dilaporkan;
  2. Hanya baju ruang operasi yang bersih dan dibenarkan oleh institusi yang diperbolehkan, tidak dapat dipakai di luar ruang operasi;
  3. Masker dipakai sepanjang waktu di ruang operasi yang meminimalkan kontaminasi melalui udara, menutup seluruh hidung dan mulut, tetapi tidak mengganggu pernafasan, bicara atau penglihatan, menyatu dan nyaman;
  4. Tutup kepala secara menyeluruh menutup rambut (kepala dan garis leher termasuk cambang) sehingga helai rambut, jepitan rambut, penjepit, ketombe dan debu tidak jatuh ke dalam daerah steril;
  5. Sepatu sebaiknya nyaman dan menyangga. Bakiak, sepatu tenis, sandal dan bot tidak diperbolehkan sebab tidak aman dan sulit dibersihkan. Sepatu dibungkus dengan penutup sepatu sekali pakai atau kanvas;
  6. Bahaya kesehatan dikontrol dengan pemantauan internal dari ruang operasi meliputi analisis sampel dari sapuan terhadap agens infeksius dan toksik. Selain itu, kebijakan dan prosedur keselamatan untuk laser dan radiasi di ruang operasi telah ditegakkan.

2.      Prinsip Asepsis Perioperatif
  1. Pencegahan komplikasi pasien, termasuk melindungi pasien dari operasi;
  2. Ruang operasi terletak di bagian rumah sakit yang bebas dari bahay seperti partikel, debu, polutan lain yang mengkontaminasi, radiasi, dan kebisingan;
  3. Bahaya listrik, alat konduktifitas, pintu keluar darurat yang bebas hambatan, dan gudang peralatan dan gas-gas anesthesia diperiksa secara periodik.

PROTOKOL
1.       Pra operatif
  1. Semua material bedah harus disterilkan
  2. Ahli bedah, asisten bedah, dan perawat mempersiapkan diri dengan scrub tangan dan lengan dengan sabun dan air, lengan panjang dan sarung tangan steril
  3. Penggunaan topi dan masker
  4. Pembersihan kulit pasien dengan agens antiseptik
  5. Tubuh pasien ditutup dengan kain steril.
2.      Intra operatif
Hanya personel yang telah melakukan scrub dan memakai pakaian operasi yang boleh menyentuh benda-benda steril.
3.      Pasca operatif
  1. Luka dibersihkan dengan normal saline dan antiseptik
  2. Luka dilindungi dengan balutan steril
  3. Bila terjadi infeksi, kolaboratif untuk pemberian antimikroba spesifik
  4. Teknik aseptik yang ketat harus dipatuhi selama pembedahan.
4.      Kontrol lingkungan
  1. Lantai dan permukaan horisontal dibersihkan secara teratur dengan sabun dan air atau deterjen germisida
  2. Peralatan disteril diinspeksi secara teratur untuk memastikan pengoperasian dan performa yang optimal
  3. Sebelum dipaket, linen, kain dan larutan yang dgunakan disteril, instrumen yang digunakan dibersihkan dan disterilkan di unit dekat ruang operasi
  4. Material-material steril yang dibungkus sendiri-sendiri digunakan bila diperlukan material individual tambahan
  5. Sistem aliran udara laminar yang menyaring bakteri dan debu dengan presentasi tinggi.

PERATURAN DASAR ASEPSIS BEDAH
1.       Umum
  1. Permukaan atau benda steril dapat bersentuhan dengan permukaan atau benda lain yang steril dan tetap steril; kontak dengan benda tidak steril pada beberapa titik membuat area steril terkontaminasi
  2. Jika terdapat keraguan tentang sterilitas pada perlengkapan atau area, maka dianggap tidak steril atau terkontaminasi
  3. Apapun yang steril untuk satu pasien hanya dapat digunakan untuk pasien ini. Perlengkapan steril yang tidak digunakan harus dibuang atau disterilkan kembali jika akan digunakan kembali.
2.      Personal
  1. Personel yang scrub tetap dalam area prosedur bedah, jika personel scrub meninggalkan ruang operasi, status sterilnya hilang. Untuk kembali kepada pembedahan, orang ini harus mengikuti lagi prosedur scrub, pemakaian gown dan sarung tangan
  2. Hanya sebagian kecil dari tubuh individu scrub dianggap steril; dari bagian depan pinggang sampai daerah bahu, lengan bawah dan sarung tangan (tangan harus berada di depan antara bahu dan garis pinggang
  3. Suatu pelindung khusus yang menutupi gaun dipakai, yang memperluas area steril
  4. Perawat instrumentasi dan semua personel yang tidak scrub tetap berada pada jarak aman untuk menghindari kontaminasi di area steril
3.      Penutup/Draping
  1. Selama menutup meja atau pasien, penutup steril dipegang dengan baik di atas permukaan yang akan ditutup dan diposisikan dari depan ke belakang
  2. Hanya bagian atas dari pasien atau meja yang ditutupi dianggap steril; penutup yang menggantung melewati pinggir meja adalah tidak steril
  3. Penutup steril tetap dijaga dalam posisinya dengan menggunakan penjepit atau perekat agar tidak berubah selama prosedur bedah
  4. Robekan atau bolongan akan memberikan akses ke permukaan yang tidak steril di bawahnya, menjadikan area ini tidak steril. Penutup yang demikian harus diganti.
4.      Pelayanan Peralatan Steril
  1. Pak peralatan dibungkus atau dikemas sedemikian rupa sehingga mudah untuk dibuka tanpa resiko mengkontaminasi lainnya
  2. Peralatan steril, termasuk larutan, disorongkan ke bidang steril atau diberikan ke orang yang  berscrub sedemikian rupa sehingga kesterilan benda atau cairan tetap terjaga
  3. Tepian pembungkus yang membungkus peralatan steril atau bagian bibir botol terluar yang mengandung larutan tidak dianggap steril
  4. Lengan tidak steril perawatan instrumentasi tidak boleh menjulur di atas area steril. Artikel steril akan dijatuhkan ke atas bidang steril, dengan jarak yang wajar dari pinggir area steril.
5.      Larutan
Larutan steril dituangkan dari tempat yang cukup tinggi untuk mencegah sentuhan yang tidak disengaja pada basin atau mangkuk wadah steril, tetapi tidak terlalu tinggi sehingga menyebabkan cipratan (bila permukaan steril menjadi basah, maka dianggap terkontaminasi).

POSISI PASIEN DI MEJA OPERASI
Posisi pasien di meja operasi bergantung pada prosedur operasi yang akan dilakukan, juga pada kondisi fisik pasien. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adlah :
1.       Pasien harus dalam posisi senyaman mungkin, apakah ia tertidur atau sadar
2.      Area operatif harus terpajan secara adekuat
3.      Pasokan vaskuler tidak boleh terbendung akibat posisi yang salah atau tekanan yang tidak tepat pada bagian
4.      Pernapasan pasien harus bebas dari gangguan tekanan lengan pada dada atau kontriksi pada leher dan dada yang disebabkan oleh gaun
5.      Saraf harus dilindungi dari tekanan yang tidak perlu
6.      Tindak kewaspadaan untuk keselamatan pasien harus diobservasi, terutama pada pasien yang kurus, lansia atau obesitas
7.      Pasien membutuhkan restrain tidak keras sebelum induksi, untuk berjaga-jaga bila pasien melawan.



Asuhan Post Operasi
Asuhan post operasi (segera setelah operasi) harus dilakukan di ruang pemulihan tempat adanya akses yang cepat ke oksigen, pengisap, peralatan resusitasi, monitor, bel panggil emergensi, dan staf terampil dalam jumlah dan jenis yang memadai.
Asuhan pasca operatif secara umum meliputi :
  1. Pengkajian tingkat kesadaran. Pada pasien yang mengalami anastesi general, perlu dikaji tingkat kesadaran secara intensif sebelum dipindahkan ke ruang perawatan. Kesadaran pasien akan kembali pulih tergantung pada jenis anastesi dan kondisi umum pasien.
  2. Pengkajian suhu tubuh, frekuensi jantung/ nadi, respirasi dan tekanan darah. Tanda-tanda vital pasien harus selalu dipantau dengan baik.
  3. Mempertahankan respirasi yang sempurna. Respirasi yang sempurna akan meningkatkan supply oksigen ke jaringan. Respirasi yang sempurna dapat dibantu dengan posisi yang benar dan menghilangkan sumbatan pada jalan nafas pasien. Pada pasien yang kesadarannya belum pulih seutuhnya, dapat tetap dipasang respirator.
  4. Mempertahankan sirkulasi darah yang adekuat.
  5. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan cara memonitor input serta outputnya.
  6. Mempertahankan eliminasi, dengan cara mempertahankan asupan dan output serta mencegah terjadinya retensi urine
  7. Pemberian posisi yang tepat pada pasien, sesuai dengan tingkat kesadaran, keadaan umum, dan jenis anastesi yang diberikan saat operasi.
  8. Mengurangi kecemasan dengan cara melakukan komunikasi secara terapeutik.
  9. Mengurangi rasa nyeri pada luka operasi, dengan teknik-teknik mengurangi rasa nyeri.
  10. Mempertahankan aktivitas dengan cara latihan memperkuat otot sebelum ambulatory.
  11. Meningkatkan proses penyembuhan luka dengan perawatan luka yang benar, ditunjang factor lain yang dapat meningkatkan kesembuhan luka.
Jenis jenis anastesi
jenis anestesi menurut sifatnya :
1.      Anastesi lokal
Merupakan tindakan medis yang menggunakan obat bius untuk menghilangkan rasa sakit hanya pada area tertentu dan dalam kurun waktu yang singkat. Jenis pembiusan ini dilakukan dengan cara injeksi atau memasukkan obat bius melalui jarum suntik sebelum melakukan tindakan medis. Setelah obat bius bekerja maka saraf tepi pada area yang diinjeksi akan terblokade sehingga impuls nyeri tidak terkirim ke otak.
Pembiusan lokal ini bersifat ringan dan hanya mampu bertahan singkat yakni sekitar 30 menit setelah dilakukannya injeksi. Akan memerlukan injeksi obat bius tambahan setelah injeksi pertama jika tindakan medis memerlukan waktu yang lebih lama.
2.      Anastesi regional
Anestesi regional adalah anestesi lokal dengan menyuntikan obat anestesi disekitar syaraf sehingga area yang di syarafi teranestesi. Anestesi regional dibagi menjadi epidural, spinal dan kombinasi spinal epidural, spinal anestesi adalah suntikan obat anestesi kedalam ruang subarahnoid  dan ekstradural epidural di lakukan suntikan kedalam ekstradural.

3.      Anastesi total (umum)

Obat Bius berdasarkan Cara Pemberiannya
Penggunaan obat bius pada tubuh manusia mempunyai beberapa cara pemberian yang bisa disesuaikan berdasarkan kebutuhan. Berikut klasifikasi jenis pembiusan berdasarkan cara penggunaannya :
1.      Anastesi inhalasi
Anestetik gas bisa dikombinasikan dengan nitrogen oksida yang terdapat pada suhu dan tekanan ruangan secara stabil. Zat cair yang telah terbukti sangat mudah menguap yakni Halotan, enfluran, isofluran, desfluran, dan metoksifluran. Kloroform merupakan anestetik inhalasi yang pemakaiannya telah dibatasi karena bersifat toksik terhadap fungsi hati. Sedangkan anestetik inhalasi yang dibatasi selanjutnya yakni eter dan siklopropan karena mudah terbakar.
Efek Samping Anestesi Inhalasi pada Organ Tubuh Berdasarkan Penyebabnya
  • Efek terhadap kardiovaskuler : penurunan tekanan darah akan melemah katekolamin akan dibebaskan oleh hiperkapnia.
  • Efek terhadap Sistem Pernafasan : voulumetidal akan menurun sedangkan frekuensi pernafasan akan meningkat.
  • Efek terhadap Otak : Obat bius atau anestesi inhalasi akan menurunkan laju metabolik otot
  • Efek terhadap Ginjal : autoregulasi aliran darah ginjal akan terganggu jika aliran darah ginjal menurun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar